Selasa, 09 April 2019


Resensi Novel Nadira


Judul Buku: Nadira
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG – Kepustakaan Populer Gramedia, edisi cetakan pertama.
Tahun Terbit: Maret 2015
Tebal Buku: 304 halaman
Harga Buku: IDR 84.000

         Sebelum Matahari Mengetuk Pagi" dan "Dari New York ke Legian". Nadira, seperti wanita pada umumnya, juga berjuang dalam kehidupannya di dunia kerjanya, keluarganya, dan hubungannya dengan pria di sekitarnya. Nadira lahir dan besar dalam asuhan keluarga yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, namun juga seperti keluarga lainnya yang tidak bebas konflik, Nadira memiliki pergumulan batin dengan saudara sekandungnya, Yu Nina.

        di awal cerita, yaitu kisah kematian ibu kandungnya, Kemala Suwandi.Nadira pun sejak saat ia menemukan ibunya tergeletak di lantai kamar tidurnya dalam keadaan tubuh biru dan mulut berbusa karena telah menelan pil tidur hingga bertahun-tahun kemudian masih menyimpan rasa ingin tahu apa dasar keputusan ibunya untuk menghabiskan nyawanya, untuk bertemu Tuhannya di hari itu.

       Ayah Nadira adalah seorang wartawan senior yang mengenal ibu Nadira semasa mereka sama-sama berkuliah di Amsterdam, Belanda. Mereka dikaruniai 3 orang anak, yaitu Nina, Arya, dan Nadira.

       Nadira adalah bungsu yang mewarisi kecintaan ayahnya pada dunia jurnalistik. Pada masa kecilnya, ia sudah menghasilkan uang dari hobinya membuat cerpen. Dan di masa dewasanya, ia bekerja sebagai wartawan di majalah "Tera" dan menangani rubrik "Politik, Hukum, dan Kriminalitas".

        Nina dan Nadira sesungguhnya bukan masalah besar karena pada dasarnya hubungan kakak adik yang akrab pun sering diisi perselisihan karena perbedaan pendapat. Konflik Nadira dan Nina, ini bermula dari kecemburuan Nina kecil terhadap kasih dan pengakuan Bram terhadap talenta Nadira dalam menulis cerpen yang diterbitkan dalam majalah dan koran. Namun, seiring berjalannya waktu, kunci hubungan Nina dan Nadira ini perlahan mulai ditemukan  setelah Nina melalui masa sulit dalam pemulihannya dari situasi pascaperceraian yang dialaminya dengan Gilang Sukma.

        Dunia Nadira berwarna kelabu.Namun, warna kelabu ini berganti menjadi merah jambu ketika ia mengenal Niko Yuliar, seorang aktivis pada zaman perkuliahannya semasa menjadi , yang kini menjadi seorang konsultan permasalahan politik dan ekonomi. Niko adalah seorang pecinta karya sastra sebagaimana Nadira . Ini adalah kutipan Sajak Ibunda dari WS Rendra yang dibacakannya untuk Nadira dan seketika mengubah warna kelabu di hidup Nadira menjadi merah jambu.

"Mengingat ibu,
aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
aku percaya kebaikan hati manusia.
Melihat foto ibu,
aku mewarisi naluri kejadian alam semesta..."


         Di bab At Pedder Bay, Nadira menjalani hubungan lamanya yang pernah terurai dengan Marc Gillard, temannya di kampus Victoria, Kanada, sejak 19 tahun silam. Bahkan ia dipertemukan dengan Rick Vaughn, seorang kawan lama yang mengaguminya di kampus yang sama.

Kekurangan: Novel ini memang agak kurang umum, sedikit eksperimental barangkali, dan alur ceritanya tidak melulu linier. Gaya penuturan dan plotnya menjadi salah satu daya tarik dari novel ini.

Kelebihan: Nadira adalah cerita yang ringan, namun sarat makna dan dipenuhi dengan majas-majas dan metafora yang menimbulkan decak kagum.